Sunday, December 31, 2006

Menebar Jurus Enterpreneur Sejati


Kuliah Umum : HM Aksa Mahmud di Kampus Al-Zaytun

Wakil Ketua MPR RI HM Aksa Mahmud menyebut, Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, pimpinan Al-Zaytun sama seperti dirinya seorang enterpreneurship atau pengusaha sejati. Bahkan, menurut Aksa gurunya enterpreneurship ada di Al-Zaytun yaitu Syaykh Panji Gumilang.

Sebab, kata Aksa, prinsip dasar seorang pengusaha adalah mengusahakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, dari barang tidak ada menjadi ada, dari tidak punya uang menjadi punya uang, dari tidak dapat untung menjadi dapat untung, dan berbagai prinsip dasar lainnya.

Dalam kuliah umumnya,bertemakan “Membangun Jiwa dan Perilaku Kewirausahaan (Entrepreneurship) di Kalangan Mahasiswa Universitas Al-Zaytun Indonesia”, Sabtu, 25 November 2006 itu, Aksa Mahmud menekankan bahwa setiap pelajar dan mahasiswa sedini mungkin harus sudah mempunyai jiwa enterpreneurship. Prinsip dasar dari enterpreneur tidak lain adalah harus berlatih. Tidak ada orang yang pintar berenang tanpa turun ke air untukbelajar berenang. Atau, tidak ada orang yang pintar berusaha tanpa harus berusaha latihan untuk mencari uang.

Aksa bercerita bagaimana dalam sejarah perjalanan hidupnya sudah terlatih belajar sambil berusaha. Sejak SD ia sudah terbiasa menjual bonbon. Atau membeli ikan di pinggir pantai seharga Rp 10, lalu menjualnya ke kota seharga Rp 12.

Enterpreneur harus memilki jiwa keberanian, kejujuran, dan percaya diri. Ketika masyarakat di Kota Makassar masih naik angkot, sesuai kemampuan ekonomi rata-rata masyarakat, Aksa justru sudah berbisnis jasa taksi. Seorang guru besar ekonomi di kota Anging Mamiri ini sampai-sampai mengingatkan Aksa untuk bertidak hati-hati.

Tetapi karena keyakinan dan rasa percaya diri yang tinggi, bahwa yang dipikirkan Aksa adalah angkutan umum buat orang-orang yang memiliki uang banyak, dan mereka berasal dari kelas menengah ke atas, maka pilihan sebagai pionir di bisnis jasa taksi terbukti berhasil.

Aksa berkesimpulan, jika tidak memiliki keberanian dan kepercayaan diri jangan terjun menjadi enterpreneur. Wilayah ini adalah profesi yang bagaikan perang, tidak ada habis-habisnya. Pengusaha mulai bangun sudah harus memikirkan bagaiman memenangkan usaha, mulai tidur itu pula yang dipikirkan, bahkan saat mimpi di malam hari atau siang bolong sekalipun mimpinya adalah bagaimana memenangkan usaha. Seorang pengusaha barus berhenti berusaha setelah dipanggil ke liang lahat.

Studi Kasus Semen Bosowa

Penerapan prinsip dasar pengusaha yang demikian sudah Aksa Mahmud terapkan betul sejak awal menjadi pengusaha, termasuk tatkala mendirikan perusahaan semen bernama Semen Bosowa di tahun 1997. Saat itu hanya ada dua pengusaha nasional yang membangun industri semen. Tetapi Aksa berprinsip, kalau kedua orang itu bisa maka iapun pasti bisa pula.

Aksa lalu mengikuti semuah seminar mengenai industri semen termasuk di luar negeri. Di Singapura Aksa tertarik salah seorang pemakalah ekspert warganegara Swiss dan beragama muslim pula. Keduanya lalu berkenalan, berbicara, Aksa dengan terus terang mengutarakan niatnya hendak membangun industri semen di Sulawesi Selatan.

Ekspert asing itu tertarik membantu rupanya hanya karena rasa kasihan, begitu sedikitnya pengetahuan Aksa akan industri semen. “Karena Anda bercita-cita tinggi dan tidak punya pengetahuan,” kata ekspert itu memberi alasan mengapa rasa kasihannya timbul. “Saya bilang, itulah sebabnya saya pakai kau karena kau yang pintar dalam bidang itu. Jadi, kau lebih besar dari saya. Tapi saya harus lebih besar dari kau nanti,” kata Aksa.

Aksa berprinsip pengusaha harus lebih cerdasr dari orang pintar. Prinsip pengusaha memakai orang pintar dengan kecerdasannya, hingga kini masih berjalan dalam roda usaha Bosowa. Dalam bisnis Aksa selalu didampingi oleh profesional, sebab dalam manajemen perusahaan modern enterpreneur hanya menemukan (inventing) saja sifatnya, selanjutnya serahkan kepada profesional.

Aksa tak ragu menggaji ekspert asing tadi 15 ribu dollar AS sebulan, setara Rp 150 juta perbulan. Kemana-mana dia dibawa sebagai orang yang akan bertanggung-jawab mendirikan industri semen, termasuk menemui direksi sejumlah bank untuk memperoleh kepercayaan. Sempat timbul perbedaan pendapat, ekspert maunya mengerjakan proyek dari awal hingga selesai, dikerjakan oleh kontraktor asing, dan pemilik tinggal terima kunci saja saat selesai, atau biasa dikenal sebagai turn-key project.

Aksa sempat tak setuju sebab merasa bangsanya punya kemampuan membangun industri semen. Namun karena ada ketakutan profesionalnya itu pergi meninggalkan dirinya, yang bisa berakibat proyek bisa batal dan hancur, Aksa lalu mengalah, oke, setuju.

Terbuktilah pilihan profesional yang sistem turn-key project benar adanya. Delapan bulan setelah penanda-tanganan kontrak, pada pertengahan tahun 1997 resesi mulai menimpa Indonesia. Tetapi ekspert asing sebagai profesional dengan yakin malah mengatakan proyek semen milki Aksa hanya akan batal kalau dunia sudah kiamat.

“Begitu yakinnya dia dengan konsep profesional. Selam dunia belum kiamat proyek ini pasti selesai. Itulah yang membuat saya mengalah,” kata Aksa. Ketika resesi mencapai puncaknya, Semen Bosowa justru sudah mulai beroperasi pada tahun 1999.

Jalan Tol Bintaro

Kata Aksa, pengusaha juga harus tetap bisa melakukan transaksi kendati tidak ada pembeli, tidak ada barang, dan tidak ada uang. Kalau bicara uang, baru beli barang, berarti itu bukan pengusaha namannya. Yang hebat adalah, kalau pengusaha bisa beli barang tapi tidak punya uang. Modalnya adalah kepercayaan.

Dengan konsep demikian Aksa Mahmud di tahun 2005 berhasil memilki proyek Jalan Tol Bintaro Pondok Aren. Saat itu bank mau menjual 98% saham perusahaan pengelola jalan tol ruas Bintaro Pondok Aren. Dalam lelang, Aksa yang diwakili salah seorang anaknya menagjukan harga penawaran tertinggi. Ia yakin para penawar lain yang hadir bukanlah pemilki uang, mereka tak bisa memutuskan harga penawaran dalam waktu segera, karena itu pastilah ia menawa dari harga terendah dulu.

Berbeda denga Aksa yang langsung menawar pada harga tinggi, satu kali, dua kali, dan tiga kali harga penawaran sebesar Rp 300 milyar langsung diputus. Sebab tidak ada waktu bagi penawar lain untuk berdiskusi dengan owner-nya untuk menaikkan harga tawaran.

Ketika tiba waktunya untuk membayar, kecerdasan berikutnya yang dibutuhkan adalah bagaimana supaya uang orang yang dipakai untuk membeli saham tadi dibayar. Arus kas perusahaan dari pendapatan harian jalan tol jelas tiak sanggup untuk membayar hutang. Padahal prinsip lain pengusaha adalah, pintar meminjam harus lebih pintar lagi mengembalikannya demi untuk menjaga nama baik hingga tak sampai kehilangan kepercayaan.

Langkah jitu Aksa Mahmud selanjutnya adalah membeli salah sebuah perusahaan yang sudah listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ), tentu dengan harga murah, disepakati sebesar Rp 12 milyar. Setelah dibeli, dan pemegang saham barunya yang dicatatkan adalah sebuah perusahaan pemilik dan pegelola jalan tol ruas Bintaro Pondok Aren, maka harga saham perusahaan listing ini sontak naik. Dari harga per lembar Rp 25 saat dibeli seharga Rp 12 milyar, melejit menjadi Rp 100 per lembar.

Modal perusahaan pun naik dari sebelumnya Rp 12 milyar menjadi Rp 1.5 trilyun. Dengan demikian, melepas 10% saja saham ke publik sudah dapat mengembalikan hutan. Berarti 90% untung sudah di tangan.

“Jadi, itulah permainan dalam dunia usaha. Enterpreneur itu sebenarnya adalah bagaimana bisa bermain denga situasi-situasi,” kata Aksa memberikan kiat jitu berusaha.

Pembangkit Listrik

Aksa masih memiliki pengalaman menari saat mendirikan pembangkit listrik. Tatkala mengikuti rombongan perjalanan Wakil Presiden Jusuf Kalla ke China, Aksa berkenalan dan mendekati salah seorang pengusaha China di sana.

Aksa bercerita ingin membangun proyek pembangkit tenaga listrik kapasitas 2 X 100 MW di Cirebon, Jawa Barat, izin sudah di tangan tetapi uang tak punya. Pengusaha negeri tirai bambu itu lalu bilang oke, dan bersedia datang ke Indonesia untuk berdiskusi.

Pembelian Bank Kesawan merupakan kisah sukses lain dari Aksa Mahmud sebagai enterpreneur sejati. Sama serpti saat mendirik Semen Bosowa, atau mendirikan pembangkit listrik di Cirebon, Aksa membeli Bank Kesawan tanpa memiliki uang kecuali negosiasikan bagaimana cara pembayarannya saja.

“Jadi, bagaimana cara memainkan kita beli barang ini, kemudian kita bisa memilki bank ini tanpa keluar uang, dan uang bank ini sendirilah yang kita pakai untuk membeli dirinya,” kata Aksa.

Ketika proses pembelian ditanda-tangani disepakati direktur utama dan direktur kredit yang baru nantinya haruslah orangnya Aksa Mahmud. Direktur sisanya boleh dipegang oleh orang lain.
(Sumber Majalah Berita Indonesia – 27/ 2006)

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home